Arsitektur Rendah Hati Tan Tjiang Ay

Jul 11th, 2007 | By Ardo | Category: Desain

Rumah Tan Tjiang Ay

Majalah Laras edisi November 1994 memuat artikel tentang sebuah rumah hunian milik arsitek Tan Tjiang Ay yang terletak di hutan lindung Dago Pakar, Bandung. Menurut saya rumah itu memiliki pesona karena konsep yang kuat dan penerapan konsep yang jitu.

Keunggulan hunian ini adalah kesatuan bangunan dengan tapak yang harmonis. Bangunan dan tapak tidak bisa dipandang sebagai sebuah entity yang terpisah tapi keduanya harus saling menunjang untuk menciptakan keindahan. Konsepnya: “Building should enhance the site; and vice versa”.

Berangkat dari konsep ini, Tjiang Ay kemudian membangun sebuah lingkungan yang mempertahankan semaksimal mungkin vegetasi yang ada. Ia hanya menebang sebuah pohon saja saat membangun rumahnya. “Saya tidak mengikuti aliran arsitektur back to nature, tapi build the nature in mind !” kata Tjiang ay.

Tjiang ay lalu menerapkan gaya arsitektur rendah hati. Potensi tapak yang sudah kuat membuat hunian ini hadir dengan tidak menonjolkan diri. Tidak ada lekuk-lekuk yang terlalu berbicara. Semua tampil polos dan apa adanya. Gaya dan materi bangunannya terlihat terpadu dengan keheningan alam dan hutan lindung yang melingkupinya.

Secara keseluruhan hunian dua lantai ini berbentuk empat persegi panjang beratap pelana dengan dinding terbuat dari concrete block. Concrete blok dipilih kerena dianggap sebagai bahan alam terolah yang dapat memberikan kesan kontras dengan suasana tapak. “Ibarat harmony suami istri, istri tetap wanita, dan suami tetap pria, tidak bisa dicampur adukkan,” jelas Tjiang Ay.

Selain itu, concrete block dipilih karena kepraktisannya. Selama masa pembangunan, Tjiang Ay menghadapi kendala tersedianya sumber air dan pengangkutan material ke lokasi pembangunan. Concrete blok dinilai lebih praktis untuk mengatasi kedua masalah ini dibanding batu bata yang ukurannya lebih kecil.

Materi lantai dibuat dari plesteran berbentuk persegi panjang berukuran 120 x 120 centimeter dengan lapisan warna terakota. Untuk bagian luar, plesteran dibiarkan apa adanya sebagaimana kolom beton yang juga hadir senada.

Pembagian zoning di hunian ini terdiri dari area publik di lantai bawah dan area private di lantai atas. Kedua zona ini berorientasi pada ruang terbuka yang ada di depan rumah. Teras lantai satu menjadi ruang peralihan antara ruang terbuka dengan seluruh ruang lantai satu yang berderet-deret. Disitu terdapat garasi, ruang kerja dan ruang servis.

Rumah Tan Tjiang Ay 2

Sementara, sebuah koridor yang terletak diatas teras menjadi ruang serbaguna. Salah satu sisi dinding koridor itu menggunakan materi kaca yang dibingkai dalam pintu kayu geser. Pemilihan materi ini membuat Tjiang Ay dan keluarganya dapat dengan leluasa menikmati pemandangan ruang luar rumahnya yang mempesona. Hanya saja, kita harus lebih waspada karena tidak ada railing penahan jika pintu kaca ini terbuka.

Pembagian ruang yang berderet-deret dengan hall (teras dan koridor) di depan membuat rumah ini seolah-olah seperti peron stasiun kereta api. “Pendenahannya memang dibuat sederhana tetapi pas dengan fungsi kontemporer. Maka saya pilih denah stasiun dengan peron yang terbuka menghadap pemandangan,” jelas Tjiang Ay.

Untuk mengatur sirkulasi udara, Tjiang Ay membuat lubang-lubang kecil berbentuk bujur sangkar. Lubang-lubang itu ditutup glass block yang dapat dibuka setiap menjelang musim penghujan agar udara tidak pengap. Pada musim kering, glass blok itu ditutup kembali untuk mencegah masuknya udara dingin.

Pilihan arsitektur rendah hati ala Tjiang Ay ini seakan oase di tengah perkembangan gaya-gaya arsitektur yang kini hanya memperhatikan penampilan luar. Pemikiran arsitektur menyeluruh dengan mempertimbangkan faktor lingkungan hidup dan pemanfaatan sumberdaya seeffisien mungkin semoga menjadi jalan arsitektur yang kita tempuh selanjutnya.

(Seluruh bahan dan foto diambil dari Majalah Laras)


Tell a Friend

Tags: , , ,

4 comments
Leave a comment »

  1. keren y bapa Tan tjiang ay, pantesan asdos saya selalu kagum sama arsitek satu ini ^^…

  2. Bagaimana cara saya untuk bisa menghubungi bapak Tan tjiang ay?? tolong email saya apabila bisa dibantu.
    trimakasih banyak

    best regards,
    helmi

  3. keren yah…. jarang ada arsitek kayak bapak Tan Tjiang ay

  4. Saya selalu mengagumi karya2 nya beliau. Dan saya berharap saya mampu membuat rumah dengan karyanya beliau.

Leave Comment