Desain Arsitektur Yang Baik
Sep 13th, 2007 | By Ardo | Category: Desain
wastumaya menemukan artikel “Desain Arsitektur Yang Baik” ini di arsip Harian Kompas tahun 2003. Meskipun sudah cukup lama diterbitkan, tidak ada salahnya wastumaya ikut kembali mempublikasikan karena artikel karangan Sonny Sutanto ini selalu up to date sepanjang masa.
Desain Arsitektur yang Baik
Seringkali ketika berhadapan dengan desain, termasuk desain arsitektur, kita seolah dihadapkan pada pilihan. Mau bagus/estetik atau fungsional? Seolah segala yang bagus cenderung tidak fungsional, demikian pula sebaliknya.
Selain itu, muncul pula isu, untuk menghasilkan desain yang bagus vs murah, bagus vs cepat dibuat/dibangun, dan sebagainya.
Dikotomi semacam itu menghasilkan banyak anekdot pada RSS; bahkan RSSSSS, “rumah sangat sederhana, sedemikian sederhananya sampai saya sengsara, susah selonjor, sulit sejahtera.”
Apa sebenarnya kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam sebuah desain arsitektur yang baik?
Marcus Vitruvius Pollio, seorang “arsitek” Romawi (aktif 46-30 M), menjabarkan sebuah diktum sederhana tentang arsitektur. Menurut Vitruvius, arsitektur yang baik, yang menyatakan kebijaksanaan atau tingginya peradaban, seharusnya memenuhi tiga syarat: firmitas, utilitas, dan venustas.
Ia harus memenuhi syarat kekokohan, suatu syarat utama menyangkut kekuatan bangunan, pengamanan terhadap keselamatan pengguna, baik dalam kondisi sehari-hari maupun dalam kondisi tak terduga (force majeur); sampai suatu batas yang ditentukan, untuk jangka waktu cukup panjang.
Arsitektur juga harus memenuhi prasyarat berlangsungnya fungsi-fungsi kehidupan di dalam bangunan, secara terus-menerus dan berkelanjutan. Ini adalah soal masukan dan luaran ke dalam bangunan, menyangkut air, listrik, jalur-jalur informasi (telkom dan Internet), pengolahan limbah, aliran udara, jarak-jarak minimal perlindungan fisik dari kondisi alam dan sebagainya.
Pada zaman sekarang harus diantisipasi hadirnya berbagai perangkat mesin dan elektronik sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan. Hal ini menimbulkan konsekuensi munculnya ancaman dari tidak berlangsungnya komponen- komponen tersebut secara wajar yang mungkin menyebabkan timbulnya bahaya terhadap pengguna bangunan/lingkungan buatan.
Vitruvius juga menyatakan, karya arsitektur haruslah memenuhi syarat keindahan. Hal ini adalah yang tersulit, bahkan muskil dijabarkan. Keindahan terkait dengan interpretasi pribadi. Satu hal yang indah bagi seseorang belum tentu indah bagi orang lain.
Keindahan juga bisa merupakan interpretasi kolektif. Satu kelompok sering berbeda pandang secara drastis dengan kelompok lain. Kesadaran kolektif tentang keindahan, nyata dalam karya-karya di dalam kultur, tradisi tertentu.
Pada setiap zaman, pada setiap periode langgam arsitektur, selalu muncul upaya membakukan interpretasi keindahan, bahkan mengarahkannya untuk menjadi nilai universal. Jika kita melihat tampilan-tampilan arsitektur Indonesia yang mirip dengan karya-karya bahkan di negara dengan perbedaan iklim begitu ekstremnya, hal itu dapat dimengerti sebagai mengacu pada estetika yang dianggap bernilai universal.
Sedemikian sulitnya menjabarkan isu keindahan dalam arsitektur sehingga terkadang arsitek-arsitek menerima bahwa karya yang indah adalah karya yang sudah memenuhi syarat “kebenaran” arsitektur, yaitu ia cukup kokoh dan bisa menjadi wadah bagi fungsi-fungsi yang berlangsung di dalamnya secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Fungsi
Kata fungsi menjadi kata kunci ketika Louis Sullivan, seorang arsitek pada awal abad ke-20, melontarkan diktum “Form follow function”.Istilah fungsi kemudian dijabarkan desainer produk Victor Papanek sebagai syarat bagi kehadiran desain yang baik.
“Fungsi”, bagi Papanek, adalah gabungan tidak terlepaskan dari banyak elemen; metoda, kegunaan/kebutuhan, keinginan, kesezamanan, estetika, asosiasi, dalam kaitannya dengan isu lingkungan.
Metoda menyangkut apa yang dimiliki sebagai sumber daya alam dan manusia sebagai dasar perancangan. Di Papua, dengan harga semen yang sangat mahal, misalnya, tentu sebaiknya arsitek tidak berkeras menggunakan semen secara ekstensif dalam bangunan. Demikian pula haruslah dikenali kemampuan dan kebiasaan membangun tukang dan warga setempat, tersedianya alat bantu yang akrab dengan pengguna, dan lain sebagainya.
Isu kegunaan/kebutuhan menyangkut hal-hal mendasar yang harus dipenuhi agar fungsi dapat berlangsung rutin, menerus, berkelanjutan. Ini berbeda dengan soal keinginan di mana kebutuhan dasar sudah terpenuhi.
Pada sisi lain, karya arsitektur juga diharapkan dapat merefleksikan situasi zaman secara keseluruhan. Zaman sebelum krismon dan zaman ketika krismon melanda menjadi latar munculnya karya-karya dengan orientasi berbeda.
Walaupun demikian, untuk arsitektur dibutuhkan kejelian terhadap kerangka waktu agar karya-karya yang hadir tidak sekadar mengikuti arus. Ini soal kepekaan yang sangat pribadi dari setiap arsitek/desainer.
Istilah keindahan juga muncul dalam ulasan Victor Papanek, dalam hal ini harus dibaca dalam hubungannya dengan konteks metoda, kebutuhan, keinginan, kesezamanan, dan bahasan berikutnya.
Dua hal terakhir adalah soal asosiasi dan isu lingkungan.
Karya arsitektur bisa diasosiasikan dengan berbagai hal. Adalah baik jika karya tersebut bisa diasosiasikan dengan hal- hal yang positif dan dapat dimengerti bagi masyarakat pada umumnya. Pemagaran Monas, misalnya, sudah menghasilkan asosiasi hadirnya sebuah kandang kebun binatang raksasa di tengah Kota Jakarta sehingga muncul juga usulan jenaka lain untuk menggali parit raksasa di sekitarnya sebagai waduk banjir, sekaligus parit pengaman dengan buaya-buaya di dalamnya.
Asosiasi masyarakat akan berkembang sebagai reaksi, entah menentang atau justru menyukai, pada akhirnya hal tersebut akan bermuara pada rasa “memiliki” masyarakat terhadap karya-karya tersebut.
Soal kesadaran terhadap kondisi lingkungan alamiah, isu lingkungan global menjadi tuntutan tak terelakkan bagi setiap manusia yang merasa bertanggung jawab terhadap generasi selanjutnya. Dalam arsitektur, hal ini sering diinterpretasikan sebagai usaha untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan yang diperoleh dengan merusak alam, yang sulit memperbarui diri dalam waktu cepat, dan usaha menghasilkan karya yang tidak “berlebihan”.
Situasi Indonesia terakhir jelas memperlihatkan telah hadirnya sebuah “kejutan” dahsyat dalam berbagai aspek hidup. Sekarang adalah saat yang sangat matang bagi kehadiran sebuah kesadaran baru, juga dalam dunia arsitektur. Kesadaran tentang karya yang bisa membawa citra khas bagi arsitektur kita.
Sebuah pencarian arsitektur Indonesia modern harus digagas dan dijelajahi secara sadar, lewat karya-karya yang memenuhi syarat-syarat arsitektur yang baik.
Masalahnya, apakah kita punya kehendak ke arah sana? Maukah dan mampukah secara sadar kita susun arah tujuan arsitektur negeri ini?
Sonny Sutanto Arsitek,
dosen arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Tell a Friend
[…] Desain Arsitektur Yang Baik […]