Merencanakan Atau Mengobati Kota ?
Nov 28th, 2007 | By Ardo | Category: Tata Kota
“Adakah kota kita cukup sustainable” bagi semua orang?”, “Apakah kota-kota baru akan tumbuh dengan cara yang sama seperti kota-kota pendahulunya, dimana banyak kota besar telah memiliki masalah dalam ruang-ruang kotanya akibat kurang adanya perencanaan desain yang matang, serta imple
mentasi yang konsisten”.
Demikian pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam Bung Probo Hindarto di dalam artikel berjudul “Apakah Kota Kita Sustainable” di blog astudio miliknya. Rasanya memang tidak ada kota kita yang cukup sustainable (berkelanjutan) bagi semua orang. Kota-kota kita selalu tumbuh liar, sporadis, dan tak terkontrol. Kota-kota baru tumbuh dengan mengulang kesalahan pendahulunya dan kemudian memetik permasalahan yang sama dengan kota yang hadir sebelumnya.
Saya yakin setiap kota kita sudah memiliki perencanaan yang baik. Kita memiliki banyak ahli perencana kota. Namun, perencanaan yang baik itu tidak didukung implementasi yang konsisten (atau memang tidak ingin konsisten ?). Kepentingan ekonomi sering menjadi “panglima” dan mengalahkan apa yang sudah dikonsep dengan baik tadi.
Kepentingan ekonomi itu ada di berbagai strata mulai pemilik modal besar hingga mereka yang bekerja hari ini untuk makan hari ini. Eksploitasi gegabah kawasan pesisir oleh pemodal telah menyebabkan banjir dan gelombang pasang baru-baru ini (Kompas 28 Nopember 2007). Sementara, di tingkat “bawah” lapak-lapak kaki lima dengan seenaknya menutupi saluran riol kota. Mereka yang tinggal di komplek perumahan juga lebih mementingkan portal dibanding kemudahan akes. Jadi, kita yang merencanakan, kita sendiri jugalah yang menghancurkannya !
Ketika mendirikan bangunan, kebanyakan kita jarang melihat hal itu sebagai kegiatan mengisi kota. Kita hanya terpaku pada lahan yang kita punyai. Jarang kita pikirkan bagaimana dampak kehadiran bangunan/ daerah yang kita ranang bagi lingkungan sekitar. Dengan pemikiran ini, kota tumbuh dalam potongan-potongan yang tidak terintegrasi dan tidak jelas arahnya.
Karena tumbuh “semau gue” dan tanpa etika, kota-kota kita kemudian menuai banyak masalah. Kita kemudian sibuk mencari formula ajaib untuk mengatasi masalah satu ke masalah lain. Karena banjir, kita baru bikin banjir kanal; kita baru bikin jalur busway dan monorail karena Jakarta macet. Celakanya, semua itu kemudian menimbulkan masalah baru lagi karena implementasi yang kurang baik tadi.
Dalam blognya, Bung Probo banyak memberi contoh-contoh gambar bagaimana rakyat kebanyakan berusaha bertahan hidup ditengah atmosphere kota yang tidak manusiawi dan tidak berkelanjutan. Ditengah desakan-desakan itu, mereka melakukan langkah-langkah sederhana dalam membuat ruang-ruang yang berkelanjutan secara sosial dan lingkungan hidup. Dari sisi ini saya melihat masih ada harapan bahwa kota-kota kita masih akan tumbuh manusiawi dan berkelanjutan.
Kita memang merencanakan kota, tetapi yang terwujud adalah kota yang tidak terencana. Kita sibuk mengobati masalah kota tanpa mengingat bahwa masalah itu bisa kita hindari jika kita menerapkan apa yang sudah kita rencanakan. Namun, pesimis tetap bukan jawaban yang baik untuk setiap persoalan. Yang kita butuhkan hanya kemauan untuk mewujudkan apa yang sudah kita rencanakan.
Tell a Friend
“Kepentingan ekonomi itu ada di berbagai strata mulai pemilik modal besar hingga mereka yang bekerja hari ini untuk makan hari ini…”
saya setuju dengan anda 200%… bahkan arsitek pun butuh makan… di tengah persaingan yang ketat walaupun kita sudah berusaha meminimalkan akhirnya kita banyak berkompromi dengan banyak kepentingan dan mengorbankan banyak pihak
Boleh saya sumbang saran pada intinya pendapat anda semua memang benar, cuma kita harus kembali kepada essensi dari penataan kota : “bahwa semua perencanan sampai dengan implementasi di lapangan HARUS berdampak “positif” untuk “masyarakat”, namun pada kenyataannya setiap perencaanan hanya tinggal perencanaan. Mungkin ada baiknya ada proses sebagai berikut :
1. Pada waktu designer (Urban Planner, Architect)sebelum mengimplementasikan “design”nya alangakah sebaiknya mereka memaparkan “konsep”,hal ini mungkin sdh dilakukan namun hanya sekedar “wacana” dimana bargaining position dari “end user” (masyarakat) sangat “lemah” (mandul), lain halnya dinegara yg sudah maju, saya ambil contoh Australia, dimana setiap ada “design” yang diajukan oleh “Planner” HARUS mendapat “ACC” dari masyarakat, perbedaannya “masyarakat DISANA” SANGAT BISA menolak design yang diajukan oleh DEsigner (Planner/ architect), sehingga secara “tidak langsung” si designer akan “berkonsep” dengan sangat baik
2. Kita (termasuk saya)tidak boleh menyamakan dengan Australia yang saya sebutkan tadi kerena ibarat kertas negara kita “sudah ada coretan” sedangkan Aussie spt. selembar kertas yg siap “digambari”
3. Kampanye “Clean”, baik dari pemerintah (pemberi tugas) ada “oknum” yang selalu minta prosentase fee design, begitu sebaliknya pihak “oknum” designer yang “takut” tdk.dapat proyek (dengan dalih mencari makan/ dapur harus tetap ngebul) inilah tantangan kita bersama ???
Cukup menarik bahasan tentang kota yang berkelanjutan yang sudah dipaparkan. Perwujudan suatu kota merupakan interaksi dan produk dari semua aktor yang terlibat di dalamnya, baik langsung maupun tidak langsung. Interaksi ini sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku aktor-aktor tersebut. Perilaku tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi masing-masing pihak.
Pemerintah yang seharusnya bertindak sebagai fasilitator dan katalisator dalam perencanaan spasial yang baik dan terarah, tidak berfungsi sebagaimana mestinya (mungkin karena minimnya persepsi dari pihak eksekutif dalam membangun suatu kota). Peraturan-peraturan (dari undang-undang sampai ke peraturan daerah) hanya menjadi peraturan di atas kertas.
Hal ini menimbulkan kefrustasian. Rasa frustasi ini mengejawantah dalam perilaku egoistis/seenaknya yang ditunjukkan oleh seluruh elemen masyarakat, seperti menyeberang jalan seenaknya, membuang sampah seenaknya, membangun rumah/villa/mal/bangunan bertingkat tinggi seenaknya, dan lain-lain.
Untuk menciptakan kota yang ideal diperlukan kesadaran semua pihak, pengembangan sikap tepo-sliro, akan mampu secara perlahan mengatasi permasalahan kota-kota kita.
Semoga teman-teman yang mengangkat masalah perkotaan di kota-kota kita dapat menjadi bagian dari solusi bukan menjadi bagian dari permasalahan. Amin.
bisakah anda memberikan referensi mengenai urban design untuk menangani banjir?saya mohon anda dapat merekomendasikan sebuah atau beberapa judul buku yang berkaitan dengan hal tsb..
terimakasih..
semoga Indonesia dapat segera menyadari pentingnya sebuah sustainable urban design and planning..
berbicara tentang sebuah participatory planning, tentu kita harus terlebih dahulu menanyakan pada diri kita sendiri. apakah kita,rekan,saudara,kerabat,bangsa dan negara kita sudah siap untuk melaksanakan sebuah perencanaan yang melibatkan masyarakat sebagai main stakeholder tsb??ingat,negara kita adalah negara dengan penduduk yang “banyak maunya”. “saking” banyaknya negara sampai bingung mana yang menjadi prioritas…